English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Friday, September 26, 2014

PENDARASAN MAZMUR; Praktek Pendarasan Mazmur (5/6)


PRAKTEK PENDARASAN MAZMUR

Melagulantunkan Mazmur secara mendaras disebut ‘psalmodia’ (bahasa Yunani ‘ooidè = melodi, ‘psalmos’ = mazmur, nyanyian dengan iringan alat musik).

Di dalam Kitab Mazmur dalam bahasa Ibrani terdapat banyak tanda-tanda yang menolong seorang pendaras untuk menyampaikan makna dari ayat-ayat yang bersangkutan. Tanda-tanda itu menyangkut aksentuasi, artikulasi, pernafasan, pausa, nada melodi, dst. Tentunya setiap bahasa mempunyai aturan sendiri sehubungan dengan aspek-aspek penyampaian itu (seni retorika).

Yang amat penting bagi kita ialah tanda yang menentukan pertengahan bait, sekaligus nafas panjang. Tandanya dalam Mazmur Ibrani disebut ‘atnakh’,  yang ditempatkan di bawah kata terakhir pertengahan kalimat dan berbentuk   ˰. Di dalam pendarasan Gregorian tanda itu diganti dengan asterisk   *. Tanda asterisk itu etap kita pakai dalam tulisan Mazmur yang ingin kita daraskan. Juga dalam Alkitab edisi LAI tiap-tiap ayat dengan jelas terbagi dalam dua bagian. Kedua bagian ayat bergerak sejalan dan isi dari masing-masing bagian saling melengkapi. Bentuk puisi Ibrani itu disebut ‘paralelismus membrorum’ (‘kesejalanan anggota-anggota/bagian-bagian kalimat’).
               
Dalam Mazmur Ibrani terdapat juga tempat-tempat yang ‘kosong’ di tengah-tengah baris-baris tertentu, yakni untuk menunggu lagi sebentar. Itu tidak kelihatan dalam kebanyakan edisi Alkitab. Maka tidak gampang bagi kita untuk menentukan tempatnya. Mudah-mudahan imajinasi kita sendiri dapat menebaknya. Diharapkan agar akan diterbitkan edisi Mazmur khusus untuk pendarasan, yang dilengkapi dengan asterisk dan tempat-tempat kosong.
               
Sering kita mendengar bacaan Alkitab di dalam ibadah kurang menggunakan seni penyampaian isi (retorika). Kesannya pembaca lebih mengeja huruf-huruf dari pada membacakan kata-kata dan kalimat-kalimat. Maka bagi para pendengarnya isi pembacaan itu menjadi kurang berarti. Di dalam Gereja Katolik diadakan pembinaan para lector (pembaca). Mereka harus belajar menarik nafas pada waktunya, menunggu pada waktunya, berartikulasi yang baik, tidak membiarkan suara anjlok di akhir kata-kata (dukungan pernafasan sampai kata itu selesai diucap), menaikkan dan menurunkan tinggi nada serta volumenya. Semuanya itu agar makna pesan sampai kepada telinga dan hati pendengar.

Dengan maksud yang sama, dalam Gereja Katolik umat diajarkan (mulai dengan anak-anak) untuk mengucapkan doa Bapa Kami, Pengakuan Iman Rasuli atau Pengakuan Iman Nicea dll dengan tenang: dengan menarik nafas secukupnya di akhir setiap bagian. Jangan seperti perlombaan siapa yang pertama sampai ke garis akhir. Oma-oma sudah tidak bisa ikut berdoa lagi: habis nafas.

Pendarasan Mazmur juga demikian: makna harus sampai, dengan menggunakan segala cara yang tersedia dalam suara manusia (jangan terutama kita mengandalkan pengeras suara yang hanya memperbesar kelemahan kita dan tidak membuat pengucapan kita lebih jelas).


Mazmur 1:1 dan 2 … seharusnya – menurut bahasa Ibrani – dicetak kira-kira demikian:

1. Berbahagialah orang                                          (nafas pendek)
    yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,(nafas pendek)
    yang di jalan orang berdosa tidak berdiri, *      (nafas panjang) [pertengahan ayat]  
    dan dalam kumpulan pencemooh                      (nafas pendek)
    tidak duduk.                                                        (selesai, langsung ke ayat berikut)

2. tetapi yang kesuakaannya ialah Taurat Tuhan, (nafas pendek)
    dan yang merenungkan Taurat itu *                  (nafas panjang) [pertengahan ayat]  
    siang dan malam                                                (selesai, langsung ke ayat berikut)

        Catatan: Taurat Tuhan yakni Kitab Kejadian s.d. Ulangan. [Prev=>Next: PENDARASAN MAZMUR; Lagu PendarasanMazmur]

0 comments:

Post a Comment