Surat Cinta Untuk Sahabat-Sahabat GMIT-ku

SOS: 'Selamatkan Jiwa dan Spirit Kekristenan' kita melalui puji-pujian (Label: Surat Cinta).

Memainkan Lagu-Lagu dalam Edisi Akord

Pemain musik gereja dituntut untuk terus berlatih dan berlatih (Label: Panduan Musik).

Kumpulan Arransemen Lagu untuk Koor Musik

Kumpulan Arransemen Lagu untuk Koor Musik oleh Pietro T. M. Netti.

Praktek Puji-Pujian Jemaat: Antara Adat dan Tradisi

Praktek Puji-Pujian Jemaat: Antara Adat dan Tradisi (Label: Pujian Jemaat).

Spirit Musik Pengiring dan Puji-Pujian Jemaat

Spirit Musik Pengiring dan Puji-Pujian Jemaat (Label: Musik Pengiring).

English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Monday, September 8, 2014

Tentang KJ Edisi Akord Sistem Angka

Oleh: Pietro T. M. Netti
Tuan Rumah RUMAH MUGER Kupang


Judul: Kidung Jemaat Edisi Akord Sistem Angka
Karya: Rumah MUGER Kupang (Agustus 2014)
Cover: Pietro T. M. Netti  

Simbol akord yang dipakai di Kidung Jemaat Edisi Akord Sistem Angka adalah simbol-simbol angka romawi I-VII (I, ii, iii, IV, V, vi, vii) sebagai pengganti jenis-jenis/nama-nama akord yang sudah dikenal selama ini. Penggunaan angka romawi I-VII didasarkan pada 7 Tingkat Trinada, yakni:

Simbol angka romawi besar (I, IV, V) adalah simbol trinada/akord mayor yang memiliki hubungan harmonis. Simbol angka romawi kecil (ii, iii, vi kecuali vii) adalah simbol trinada/akord minor yang juga memiliki hubungan harmonis. Angka romawi ke-7 (vii) tidak termasuk di dalam trinada/akord minor, karena dalam tingkat trinada, tingkat ke-7 vii (si), walaupun disimbolkan dengan angka romawi kecil, bukanlah trinada/akord minor melainkan sebagai trinada/akord kurang dan/atau trinada/akord diminish (akan dijelaskan kemudian).

7 Tingkat Trinada tersebut dapat diterapkan untuk setiap key note atau nada dasar. Nada dasar do = c misalnya; Trinada/akord C (do) memiliki hubungan harmonis dengan trinada/akord F (fa) dan trinada/akord G (sol) yang mana ketiga trinada/akord tersebut adalah trinada/akord mayor. Dalam penulisan simbol akordnya, trinada/akord C-F-G disimbolkan dengan angka romawi besar I-IV-V (do-fa-sol).

Dalam permainan musik, ketiga trinada/akord di atas sudah dapat dipakai untuk memainkan sekian banyak lagu yang bernada dasar mayor yang biasanya ditandai dengan penulisan do = … (tidak untuk nada dasar minor atau lagu-lagu minor). Nada dasar minor atau lagu-lagu minor biasa ditandai dengan penulisan la = … Jika dimulai dengan la, berarti trinada/akordnya pasti diawali pada tingkat trinada ke-6 (la).

Berpatokan pada do = c, maka tingkat ke-6 adalah la atau a (la = a) dimana trinada/akord A (la) adalah trinada/akord minor yang biasa ditulis dengan simbol Am (A minor). Trinada/akord Am (la) memiliki hubungan harmonis dengan trinada/akord Dm (re) dan trinada/akord Em (mi). Dalam penulisan simbol akordnya, trinada/akord Am-Dm-Em disimbolkan dengan angka romawi kecil vi-ii-iii (la-re-mi).

Begitu pula dengan nada dasar lainnya, penggunaan simbol angka romawi dapat diterapkan dengan tetap memperhatikan 7 tingkat trinada dari nada dasar tersebut. (Lihat daftar nama pasangan akord).

Pada bagian di dalam KJ Edisi Akord Sistem Angka, terdapat penulisan simbol angka romawi besar VII. Penulisan simbol VII dalam angka romawi besar tidak merepresentasikan si sebagai tingkat trinada ke-7 atau sebagai leading note atau trinada/akord diminish, tetapi si sebagai simbol yang menunjuk pada pembalikan/inversi tangan kiri (pijakan bass) dari trinada/akord tingkat ke-5 (V atau sol), dan/atau VII (si) sebagai trinada/akord mayor.

Misalnya; masih dalam nada dasar do = c, jika didapati simbol V/VII (=G/B), ini berarti akordnya adalah akord V atau G, dan pijakan bass berada pada nada si atau B. Penyebutan untuk simbol V/VII adalah 5 (lima) balik 7 (tujuh), atau 5 (lima) per 7 (tujuh), atau sol balik si, atau sol per si. Sama halnya dengan G/B adalah G balik B, atau G per B. Sebagai pembalikan/pijakan bass, seluruh simbol pembalikan ditulis dalam angka romawi besar, yang sesungguhnya hanyalah sebagai pijakan not tunggal yang secara spesifik tidak menunjuk pada harmoni mayor atau pun minor.

Contoh lain simbol pembalikan:

            Jenis akord diminish di dalam KJ Edisi Akord Angka ini ditulis dengan simbol angka romawi kecil diikuti dengan dim, seperti ivdim, iv#dim, dll. Penulisan simbol angka romawi kecil pada akord diminish mengikuti system angka yang ada pada 7 tingkat trinada, karena walaupun akord diminish tersebut bukan termasuk dalam kelompok akord minor/kecil, tapi memiliki interval tert kecil layaknya interval di dalan akord minor. Penambahan kata dim (diminish) hanya untuk membedakannya dari akord-akord minor, karena, secara keseluruhan, akord diminish yang ada di dalam KJ Edisi Akord bukan termasuk dalam tingkatan trinada ke-7 dari nada dasar yang ada.   

Berikut ini adalah Daftar Nama dan Pasangan Akord (pasangan harmonis) berdasarkan nada dasar, dan Simbol Angka Romawi yang menunjuk pada nama-nama akord tersebut:
Catatan:
  1. Penggunaan akord dengan simbol angka romawi berlaku untuk semua nada dasar yang berjumlah 12 nada dasar dari nada dasar do = c berturut-turut sampai dengan do = b. Jumlah 12 nada dasar tersebut sesuai dengan jumlah keseluruhan nada di dalam tangga nada kromatis (c-cis-d-dis-e-f-fis-g-gis-a-ais-b).
  2. Pada umumnya akord dari pasangan harmonis mayor I-IV-V ditulis dengan angka romawi besar. Jika pada bagian tertentu didapati dengan simbol angka romawi kecil seperti i atau iv atau v, maka akord yang seharusnya adalah akord mayor tersebut telah berubah menjadi akord minor.
  3. Begitu pun sebaliknya, akord dari pasangan harmonis minor vi-ii-iii ditulis dengan angka romawi kecil. Jika pada bagian tertentu didapati dengan simbol angka romawi besar seperti VI atau II atau III, maka akord yang seharusnya adalah akord minor tersebut telah berubah menjadi akord mayor.

Friday, September 5, 2014

KJ Edisi Akord Sistem Angka


KATA PENGANTAR

Syukur kepada Tuhan atas perkenannan-NYA, penyusunan KIDUNG JEMAAT Edisi Akord dengan simbol Angka Romawi (KJ Edisi Akord Sistem Angka) bisa dirampungkan pada Jumat, 15 Agustus 2014.

Penyusunan KJ Edisi Akord Sistem Angka ini dilakukan dalam rangka menjawab keinginan para pemain musik gereja (pianis/organis atau keyboardis) yang masih merasa sulit memainkan lagu-lagu dengan petunjuk akord sebagaimana yang terdapat di dalam KJ Edisi Akord yang diterbitkan oleh Yayasan Musik Gereja di Indonesia (YAMUGER).

Kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh sebagian pemain musik tersebut dikarenakan kemampuan pemain musik yang belum bisa memainkan semua akord dari berbagai nada dasar (key note) yang ada. Kesulitan-kesulitan ini sering sekali dialami oleh sebagian besar pemain musik gereja dengan latar belakang otodidak (belajar sendiri).

Dalam kenyataan, kebanyakan pemain musik otodidak (tidak semua) setelah bisa memainkan alat musik (khususnya keyboard) dengan akord dari salah satu nada dasar yang dipelajarinya, mereka enggan melakukan upaya untuk mempelajari permainan akord dari nada dasar yang lainnya. Sehingga mereka cenderung hanya bisa/mahir memainkan akord (baik pasangan harmonis maupun pasangan parallel-nya) dari salah satu nada dasar saja.

Sebagai contoh: ada pemain musik (keyboardis) yang hanya bisa bermain dari nada dasar c = do (atau do = c), maka pemain tersebut akan sangat sulit memainkan lagu-lagu dalam KJ Edisi Akord yang bertuliskan petunjuk akord dari nada dasar yang lain (g = do atau do = g, dan/atau nada dasar lainnya). Begitu pula ada pemain keyboard yang lebih tertarik untuk bermain dari nada-nada dasar tertentu saja.

Beranjak dari kenyataan tersebut, saya tergerak untuk membantu para pemain musik gereja yang kebetulan belum menguasai permainan akord dari semua nada dasar dengan menyusun kembali KJ Edisi Akord yang telah diterbitkan oleh YAMUGER dengan mengganti penulisan simbol-simbol akord (nama-nama akord) yang ada ke dalam simbol akord dengan menggunakan simbol angka romawi. 

Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang tulus dan memberi apresiasi yang tinggi atas usaha dan kerja keras dari Tim Penyusun Akord Yamuger yang telah menyusun KJ Edisi Akord. Sebagai pemain musik gereja, secara pribadi, saya mendapatkan manfaat yang sangat luar biasa dari kehadiran KJ Edisi Akord ini dalam menunjang pelayanan saya di bidang musik di Jemaat GMIT Gunung Sinai Naikolan-Kupang-NTT (Baca tulisan tentang: Kidung Jemaat Edisi Akord).
               
Adapun kelebihan yang dapat diambil dari Kidung Jemaat Edisi Akord adalah sebagai berikut:
  1. Setiap lagu memiliki ragam dan akord yang jelas yakni menuliskan notasi angka yang jelas sebagaimana juga yang terdapat pada buku himpunan lagu-lagu KJ pada umumnya dengan mencantumkan secara jelas pula petunjuk/penggunaan akord di setiap lagunya.
  2. Dari petunjuk/penggunaan akord yang ada, meskipun memiliki harmoni musik yang sederhana, jika dimainkan dengan baik dan benar, setiap lagu memiliki arransemen yang sangat indah. Lagu-lagu KJ sangat sarat dan kaya dengan unsur-unsur harmoni musik klasik, karena memang sebagian besar lagu-lagu KJ diambil dari karya-karya spektakuler komponis-komponis ternama dunia di abad pertengahan yang belum tergantikan hingga saat ini dan bahkan, bisa saja terjadi, tidak tergantikan untuk selama-lamanya.
  3. Dan lebih dari itu, bila dimainkan dengan baik dan benar, akan sangat menghadirkan nuansa kudus, hikmat, sukacita dan damai sejahtera di dalam memuliakan Allah, serta turut menjaga dan memelihara kekhusukan dalam beribadah kepada ALLAH.
Penyusunan KJ Edisi Akord Sistem Angka (pencantuman akord lagu) sebagian besar bersumber pada KJ Edisi Akord yang diterbitkan oleh Yamuger. Semoga kehadiran Kidung Jemaat Edisi Akord Sistem Angka dapat menolong lebih banyak pemain musik gereja untuk dapat memainkan seluruh lagu yang ada dalam Kidung Jemaat.

Bersambung ke: Tentang Kidung Jemaat Edisi Akord Sistem Angka

Kupang, 15 Agustus 2014
Rumah MUGER Kupang


PIETRO T. M. NETTI
Tuan rumah Rumah MUGER Kupang

Thursday, September 4, 2014

Baru…! Kidung Jemaat Edisi Akord Sistem Angka


Baru…! Kidung Jemaat Edisi Akord Sistem Angka: KJ Edisi Akord dengan simbol Angka Romawi, karya Rumah MUGER Kupang. Semua pemain musik gereja bisa dengan mudah memainkan seluruh nyanyian yang terhimpun di dalam Kidung Jemaat dengan penerapan harmoni akord yang indah.  

Mungkin ada pemain musik yang berkata: “Saya sudah memiliki KJ Edisi Akord yang diterbitkan oleh Yamuger, tapi tidak bisa memainkan semua lagu dengan petunjuk akord yang ada karena saya tidak menguasai permainan akord dari semua nada dasar!”?
               
KJ Edisi Akord Sistem Angka adalah solusinya. Karena simbol/petunjuk akordnya ditulis dalam angka romawi, maka semua pemain musik dapat dengan mudah memahami dan memainkannya; baik pemain musik yang mahir memainkan akord dari semua nada dasar, maupun pemain musik yang hanya mahir memainkan akord dari satu nada dasar.

Inilah kesempatan bagi kita untuk bisa menikmati dan menghadirkan lagu dan arransemen musik yang indah dari nyanyian-nyanyian yang ada di dalam Kidung Jemaat melalui KJ Edisi Akord Sistem Angka.

Inilah kesempatan bagi kita untuk menunjukkan kualitas yang sebenarnya dari nyanyian-nyanyian Kidung Jemaat yang memiliki harmoni musik klasik yang indah melalui KJ Edisi Akord-Angka Romawi.  (Bersambung! Baca: KATA PENGANTAR KJ Edisi Akord Sistem Angka!)

Life (Hidup)


Oleh: Pietro T. M. Netti
Tuan Rumah RUMAH MUGER Kupang

LIFE
Written by: Garry Mac

Life is wonderful as I walk your way
Jesus, Savior, Lord

I will lift You up, sing a song of praise
Jesus, Savior, Lord

I've got freedom and peace, hope and rest
All the things You do
Liberty and righteousness
I've found myself in You...wo...o...o...o...

Catatan:

Lagu ini adalah salah satu lagu yang dilombakan pada festival band rohani yang diselenggarakan oleh GSJA (Gereja Sidang Jemaat Allah) pada awal tahn 1990-an. Tempat pelaksanaan lomba di Kupang Teater (KT), salah satu bioskop ternama kota Kupang yang sudah 'gulung tikar'. Festival band ini diikuti oleh band-band dari berbagai denominasi gereja yang ada di kota Kupang.

Lagu tersebut adalah kategori lagu pilihan yang dibawakan/dimainkan dengan sangat indah oleh BKS Band, sebuah Band independen yang sebenarnya tidak mewakili GMIT, tapi disebut-sebut sebagai yang mewakili GMIT karena semua personil di BKS Band adalah warga GMIT.

Personil BKS Band:
  1. Peter Netti (keyboard)
  2. Rudiyanto (Bass Guitar)
  3. Onny Toelle (Lead Guitar)
  4. Iwan Welly (Drum)
  5. Erasmus Pallo (Vocal)
  6. Ance Dubu (Vocal)
  7. Debby Rihi (Vocal) 
Lagu tersebut telah saya gubah ke dalam versi bahasa Indonesia dengan judul "HIDUP" pada 28 Juli 2014, dan sedang dalam proses mengarransemen untuk dinyanyikan secara semi acapela di gereja.
(Notes Facebook Peter Netti-30 Juli 2014)

HIDUP
By: Pietro T. M. Netti

Indah hidupku bila bersama
Yesus, Tuhan-ku

'Kan kunyanyikan pujian bagi
Yesus, Tuhan-ku

'Ku dibebaskan, 'ku dib'ri damai, dan pengharapan
Kelegaan dan kebajikan
Hanya ada pada-Mu....wo...o...o...o

Saturday, August 23, 2014

GEREJA DAN PEMAIN MUSIK GEREJA (8)


CATATAN AKHIR

Oleh: Pietro T. M. Netti
(Pelaku Musik Gerejawi-
Warga Jemaat Gunung Sinai Naikolan)

Memang untuk melakukan proses seleksi/perekrutan dan pelatihan/pembinaan seperti yang telah dijelaskan di atas tidaklah mudah. Ada sejumlah konsekuensi yang patut menjadi perhatian bersama baik oleh pihak gereja maupun pemain musiknya.

Gereja, dengan melakukan proses-proses tersebut, mau tidak mau harus memikirkan dan/atau melakukan pengelolaan sistem administrasi dan manajemen yang professional dan bertanggung jawab dalam arti gereja sebagai sebuah institusi perlu menerapkan sebuah sistem kerja professional yang dapat menjamin kesejahteraan karyawannya termasuk pula pemain musik gerejanya.

Pemain musik gereja pun menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gereja dalam melaksanakan tugas, fungsi dan perannya di dalam pelayanan gereja. Pada prinsipnya, gereja dan pemain musik gereja memiliki hubungan dan/atau ikatan kerja timbal balik, yang di dalamnya terdapat sejumlah hak dan kewajiban yang patut dipenuhi oleh kedua belah pihak.

Demikianlah, gagasan yang berhubungan dengan gereja dan pemain musik gereja: Apa yang harus gereja pikirkan/lakukan untuk membenahi kondisi musik pengiring yang sesungguhnya memiliki fungsi dan peran yang sangat besar di dalam sebuah proses peribadatan?

Untuk menjawabnya, gereja perlu memikirkan dan/atau melakukan cara-cara/sistem professional dalam hal melakukan proses seleksi dan/atau perekrutan, dan pelatihan dan/atau pembinaan pemain musik gerejanya.

Gereja pun harus memikirkan dan/atau melakukan pengelolaan sistem administrasi dan manajemen yang professional dan bertanggung jawab, sehingga memiliki hubungan dan/atau ikatan kerja timbal balik, yang di dalamnya terdapat sejumlah hak dan kewajiban yang patut dipenuhi oleh gereja dan pemain musik. Semoga

TUHAN menolong kita!

Kembali ke: CATATAN AWAL
Tulisan sebelumnya: GEREJA MENELAN SIMALAKAMA

Thursday, August 21, 2014

GEREJA MENELAN SIMALAKAMA (7)


GEREJA DAN PEMAIN MUSIK GEREJA

Oleh: Pietro T. M. Netti
(Pelaku Musik Gerejawi-
Warga Jemaat Gunung Sinai Naikolan)

Ada beberapa pertimbangan mengapa gereja perlu melakukan proses (seleksi/perekrutan dan pelatihan/pembinaan) di atas bagi pemain musik gerejanya:

Menjaga Fungsi dan Peran Musik Pengiring

Fungsi/peran musik pengiring adalah mengiringi puji-pujian liturgi/jemaat yang hampir mendominasi setiap tahapan proses kebaktian. Dengan demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa musik pengiring memiliki fungsi/peran yang sangat besar dalam setiap kebaktian.

Musik pengiring berpeluang ganda dalam menciptakan suasana berbakti yang berlangsung khusuk, hikmat, kudus, penuh semangat, kesungguhan, sukacita dan damai sejahtera, dan sebaliknya berpeluang menciptakan suasana gaduh/ricuh/kacau dalam sebuah kebaktian (tidak khusuk, tidak hikmat, dan seterusnya)  yang cenderung menggiring dan menjerumuskan peserta kebaktian ke dalam pencobaan dan dosa.

Menyelamatkan Pelayanan Gereja

Berdasarkan pengalaman, kebanyakan pemain musik gereja yang ditugaskan oleh gereja-gereja di dalam lingkup GMIT adalah sukarelawan-sukarelawati sejati yang bersimpati untuk membantu, melayani dan mengabdikan dirinya untuk tujuan pelayanan.

Beruntung, jika sang sukarelawan/wati (baca: pemain musik) memiliki pengetahuan dan kompetensi bermusik yang memadai, tapi jika tidak? Gereja akan dihadapkan pada sebuah kondisi simalakama yang sangat beresiko tinggi pada tugas dan pelayanannya.

Mempertahankan musik pengiring yang amburadul (baca: aksi pemain musik yang tidak berkompeten) sama artinya dengan mengorbankan warga gereja/jemaat dalam hal mendapatkan sukacita dan damai sejahtera sorgawi.

Sebaliknya untuk mencegah warga gereja/jemaat jatuh ke dalam pencobaan, maka gereja harus meniadakan musik pengiring dan/atau aksi pemain musik yang cenderung mengganggu kekhusukan, kekudusan, dan kesungguhan beribadah. Sebuah kondisi dilematis yang mau tidak mau harus ditelan oleh gereja.

Mencegah Jatuh Korban di dalam Pelayanan

Gereja tidak berani memberi saran, kritik atau bahkan sanksi kepada pemain musik gerejanya berkenaan fungsi/peran dan tugasnya yang kurang maksimal, karena gereja tidak memiliki andil apa-apa dalam hal memberi bekal pengetahuan dan kompetensi kepada sang sukarelawan/wati tersebut. Gereja terpaksa hanya menatap pasrah (plus tanpa daya, pen) korban-korban yang terus berjatuhan di dalam tugas dan pelayanannya.

Jemaat, sebagai korban utama, menjadi tidak nyaman dan bahkan merasa terganggu dengan kehadiran musik pengiring dan/atau aksi pemain musik yang tidak memperhatikan unsur-unsur dasar seni musik, etika dan estetika bermusik yang bertanggung jawab. 

Meningkatkan Totalitas Pelayanan

Sebagai sukarelawan/wati, sang pemain musik gereja sudah tentu tidak bisa memberikan totalitas pelayanan secara maksimal, sehingga tentu pula gereja tidak bisa banyak berharap dan/atau menuntut lebih dari sang sukarelawan/wati tersebut. Gereja hanya patut bersyukur dan berterima kasih dalam suka maupun duka, karena sudah ada yang rela meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu pelayanan gereja.

Dalam suka apabila fungsi dan peran musik pengiring berjalan semestinya, dan dalam duka apabila fungsi dan peran musik pengiring terus memakan korban dan hanya menjadi gerakan pengacau ketertiban beribadat.

Bersambung ke: CATATAN AKHIR
Tulisan sebelumnya: PELATIHAN DAN PEMBINAAN